Flexing Berbahaya untuk Kesehatan Mental

Ternyata Flexing Berbahaya untuk Kesehatan Mental Lho. Foto: Freepik

simetriss.com– Menurut para ahli ternyata melakukan flexing berbahaya untuk kesehatan mental lhooo.

Lalu apa sebenarnya flexing? dan apa yang membahayakan dari perilaku tersebut?

Sederhananya flexing merupakan tindakan memamerkan kekayaan, prestasi, atau kemampuan di media sosial.

Hal ini sering dianggap sebagai cara untuk menunjukkan pencapaian dan menarik perhatian orang lain. 

Namun alih-alih audiens di sosial media yang mendapat dampaknya, justru si pelaku flexing yang lebih terpapar bahayanya, terutama pada kesehatan atau kesejahteraan mental.

Bahaya Flexing untuk Kesehatan Mental

  1. Merasa Tidak Cukup

Flexing dapat memicu perasaan tidak aman dan merasa kurang dari orang lain. 

Melihat terus-menerus postingan memamerkan prestasi dapat membuat si pelaku selalu merasa tidak cukup dengan pencapaiannya.

Hal ini juga menyebabkan perasaan sedih, rendah diri, dan stres.

  1. Kecemasan Sosial

Flexing dapat memperburuk kecemasan sosial, hal ini timbul karena adanya tekanan untuk memposting pencapaian atau kekayaan agar mendapatkan perhatian.

Pada akhirnya hal tersebut bisa menyebabkan rasa cemas yang berlebihan dan mendorong perilaku tidak sehat seperti mengejar popularitas atau menghabiskan uang yang bukan milik sendiri.

Baca juga: Poin Penting Menjaga Kesehatan Mental bagi Wanita Super Sibuk

  1. Risiko Depresi

Melakukan flexing secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko depresi. 

Hal ini dipicu karena perasaan tidak cukup dan kecemasan sosial dapat membuat si pelaku flexing merasa terisolasi dan kesepian, hingga akhirnya merasa tidak berharga dan tidak berguna.

  1. Tidak Bahagia

Flexing mungkin memberikan kebahagiaan sesaat, tetapi pada akhirnya, dapat menyebabkan rasa tidak bahagia. 

Membandingkan diri dengan orang lain secara terus-menerus dapat memperburuk suasana hati dan membuat si pelaku merasa tidak puas dengan hidup.

  1. Produktivitas dan Konsentrasi Terganggu

Flexing dapat mengganggu produktivitas dan konsentrasi di pelakunya. 

Terus-menerus memeriksa media sosial untuk melihat postingan orang lain dapat menghabiskan waktu dan mengganggu fokus.

Hal ini juga yang mengakibatkan keterlambatan dalam menyelesaikan tugas dan gangguan dalam kinerja di tempat kerja atau sekolah.

Menghadapi Perilaku Flexing

Penting untuk bersikap bijak saat menggunakan media sosial dan mengontrol diri untuk tidak terjebak flexing, diantaranya dengan:

– Memahami tipe kepribadian yang berbeda.

– Menceritakan prestasi secukupnya, bukan sepuasnya.

– Cek data dan fakta yang sesuai.

– Ingat dengan peribahasa “di atas langit masih ada langit”

Mengenali bahaya flexing dan memiliki strategi untuk menghadapinya dapat membantu menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan secara keseluruhan. (Simetriss/Ayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *