Avatar: The Last Airbender

Review Serial Live Action Avatar: The Last Airbender, Ini Plus Minusnya. Foto: Dok. Netflix

simetriss.com – Serial live action adaptasi dari animasi Avatar: The Last Airbender akhirnya tayang di Netflix pada Kamis, 22 Februari 2024, secara serentak di seluruh dunia. 

Seiring dengan tayang seri live action tersebut, berbagai review bermunculan dengan memberikan pendapat tentang eksekusi serial ini.

Dalam laman agregat dan review IMDb, Avatar: The Last Airbender di meraih nilai 9,3.

Secara garis besar nilai tersebut mengindikasikan kepuasan penonton dan hasilnya dari live action tersebut sangat memuaskan.

Meski mampu meraih antusiasme penonton, tak sedikit juga yang menyoroti plus minus dari serial live action tersebut.

Lalu apa saja plus dan minusnya? Simak dalam penjelasan berikut ini:

Nilai Plus Avatar: The Last Airbender

Secara keseluruhan, live action Avatar: The Last Airbender sangat mengagumkan, namun ada beberapa yang menjadi sorotan khusus, diantaranya:

Casting yang Sesuai dengan Karakter

Pemilihan pemain dinilai cukup pas dan sesuai secara visual dengan karakternya. 

Terutama, karakter pengendali Api yang dianggap sebagai pilihan terbaik. 

Para aktor dan aktris dari Asia berhasil menggambarkan karakter dengan baik, seperti Dallas Liu yang berperan sebagai Zuko dan Paul Sun Hyung yang membawakan karakter paman Iroh.

Bahkan, Elizabeth Yu sebagai Azula juga berhasil memerankan sosok yang pendendam, pemarah, dan licik.

Meski netizen sempat ramai mengkritik visual Azula dan Mai yang berpipi chubby, hal ini sangat berbeda dengan versi animasinya dengan pipi ramping.

Alur Cerita Sesuai dan Tak Terlalu Dipaksakan

Dengan total 8 episode berdurasi sekitar 50 menit, alur cerita tidak terlalu dipaksakan atau dipercepat. 

Meski ada beberapa adegan yang terasa terlalu singkat atau terpotong tidak sesuai dengan sumbernya, hal ini masih tak terlalu masalah.

Cukup Setia dengan Sumber, Meski Lebih Dewasa

Tone dan pilihan cerita terasa lebih dewasa, namun masih berusaha menyesuaikan diri dengan sumbernya. 

Hal ini sesuai dengan perkiraan bahwa target penonton kini lebih dewasa daripada sebelumnya.

Meski demikian, gerakan olah tubuh dari para pengendali elemen ditampilkan dengan baik oleh para pemeran.

Bahkan cukup identik dengan gerakan-gerakan di versi animasinya.

Baca juga: Zara Hatke Zara Bachke, Kisah Cinta Pasangan Kelas Menengah India yang Penuh Rintangan

Nilai Minus Avatar: The Last Airbender

Agak berat saat harus memberi nilai minus pada live action Avatar: The Last Airbender.

Sebab secara keseluruhan serial ini sangat mengobati kerinduan terhadap serial animasi di awal tahun 2000an lalu.

Namun ada beberapa hal yang berbeda dan tak sesuai dengan ekspektasi, mungkin karena target pasar atau lain sebagainya.

Tensi Terasa Lebih Serius

Cerita versi live action terasa terlalu serius, hal ini berbeda dengan versi animasinya yang kental memiliki elemen komedi. 

Aang dan Sakka sebagai sumber hiburan di tengah cerita kini terkesan kurang kocak.

Beberapa Grafis Komputer Agak Canggung

Penggunaan efek gambar komputer tidak selalu mulus, terutama pada adegan yang melibatkan pergerakan besar, seperti terbang bersama Appa si Bison Terbang kesayangan Aang.

Namun secara keseluruhan dalam pengendalian keempat elemen begitu luar biasa, sempurna.

Akting Beberapa Pemain Masih Agak Kaku

Beberapa pemain, terutama pemeran utama, mendapat penilaian kurang maksimal dan kaku dalam berakting. 

Terdapat juga kekurangan dalam penggambaran skrip yang tidak sesuai dengan sumbernya.

Meskipun demikian, banyak yang berpendapat bahwa serial ini sangat layak untuk ditonton.

Terutama dengan kelebihan casting yang bagus dan kesetiaannya terhadap sumber materi.

Bagaimana menurutmu? Apakah serial Avatar: The Last Airbender live action ini layak untuk ditonton di Netflix? 

Atau mungkin telah berhasil memukau dan mengobati kerinduan pada animasi di masa kecil?***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *